Mataram – Jangan rusak marwah organisasi wartawan tertua di republik ini hanya karena amplop. Jangan reduksi idealisme jurnalistik dengan harga tiket menuju kekuasaan. Begitu kira-kira nada tinggi namun penuh kasih dari Ketua Panitia Konferensi Provinsi PWI NTBAbdus Syukur.
Konferprov PWI NTB yang dijadwalkan berlangsung 2 Agustus 2025 di Mataram mulai memasuki fase penting. Pendaftaran calon ketua dibuka. Verifikasi peserta dilakukan. Tapi satu hal yang terus diingatkan Syukur: hindari politik uang dalam bentuk apa pun.
“Jangan ada transaksi uangjangan ada fasilitas. Jangan ikut-ikutan organisasi lain yang Anda dengar melakukan jual beli suara. Karena itu bisa fatal. Bisa dibatalkan kemenangannya,” tegas Syukuryang juga dikenal sebagai penguji UKW nasionalusai rapat pemantapan panitiadi MataramMinggu(13/07)
Pesan itu disampaikannya dalam nada yang tegas. Karena bagi Abdus Syukurmarwah organisasi profesi seperti PWI tidak bisa ditukar dengan logika transaksional. Apalagi organisasi ini menaungi profesi mulia yakni wartawan.
Di sisi lainmuncul pertanyaan”Mengapa ada biaya pendaftaran dalam Konferprov PWI NTB?
Syukur menjawab dengan tenang. Katanyaniatnya sederhana, menumbuhkan kemandirian organisasi. Tidak lebihtidak kurang. “Memang dalam PD/PRT PWI tidak diatur secara eksplisit. Tapi itu bukan berarti haram. Karena mekanisme teknis seperti ini biasanya diatur dalam Tata Tertib Konferensi,” ujarnya.
Ia memaparkantata yertib ini disusun oleh Steering Committee (SC) dan panitia. Tapi ia bukan ayat suciia bisa diubahbahkan bisa dibatalkan. Sebab pada akhirnyasemua akan diputuskan oleh forum peserta konferensi (floor).
“Artinyasemua kembali ke peserta. Mereka yang memutuskan: setujumenolakatau minta biaya itu dihapus. Mau nol rupiah? Silakan. Tak ada larangan,” jelas Syukur usai memimpin rapat panitia.
Ia menambahkankeputusan final bukan di tangan SCbukan juga panitia. Tapi peserta. Jadikalau merasa keberatanjangan ribut di luar. Sampaikan di dalam forum. “Begitu demokrasinya. Begitu mekanismenya. Paham?,” ujarnya.
Konferprov PWI NTB 2025 bukan sekadar suksesi kepemimpinan. Ia jadi etalase integritas wartawan. Ia adalah cermin profesionalisme yang harus dijaga. Makajaga forum ini tetap bermartabat.
“Jangan rusak dengan politik uang. Jangan reduksi dengan transaksi. Jaga PWI. Jaga profesi. Jaga integritas,” pesannya. (*)
Ket. Foto:
Kegiatan rapat panitia Konferprov PWI NTB. (Ist)

