“Gak Perlu Diet, Makan Saja” — Tafsir atas Kesederhanaan dan Makna Hidup

Catatan Agus K Saputra :  Pemerhati SosialEkonomi dan Budaya

Ada momen ketika keheningan berbicara lebih nyaring daripada kata-kata. Itulah yang saya rasakan ketika seorang kawan lamaDidu—aktivis semasa kuliah—menulis sebuah catatan sederhana di selembar kertas:

*“Gak perlu dietmakan saja.”*

Kalimat itu disertai sebait puisi pendekyang sekilas tampak jenakaringanbahkan absurd. Tapi semakin saya renungkansemakin dalam maknanya menggali. Ada semacam ironi lembut di dalamnyasekaligus kebijaksanaan yang lahir dari pengalaman hidup yang panjang. 

Didu bukan sekadar bercanda. Ia sedang mengingatkan sesuatu tentang kehidupantentang keseimbangan antara kebutuhan dan keinginantentang menerima diri sendiri di tengah dunia yang penuh tekanan dan pencitraan.

Kita hidup di zaman yang penuh tuntutan. Dunia hari ini terlalu sering menyuruh orang untuk “diet”—bukan hanya diet makanantapi juga diet dari banyak hal: diet emosidiet ekspresidiet kebebasan berpikir. 

Kita diminta menyesuaikan diri dengan standar sosial yang sempit: harus kurusharus produktifharus tampak bahagiaharus tampak sukses.

Di tengah situasi itulah pesan Didu terasa seperti angin segar: “Gak perlu dietmakan saja.” Kalimat ini seolah menolak segala bentuk tekanan yang datang dari luar diri. 

Ia mengajak kita untuk hidup dengan apa adanyatanpa takut dianggap berlebihan. Seperti dalam puisi yang ia tulis:

_dengan senyum simpul_

_kau menghadap angin_

_memberi makna tentang hidup_

Ada gestur sederhana namun kuat di sana: menghadapi angin. Angin bisa diartikan sebagai kehidupan itu sendiridengan segala arah dan tekanannya. Tapi “kau” di dalam puisi itu tidak melawantidak juga menyerah. Ia hanya menghadap—sebuah sikap pasrah yang aktifmenerima sekaligus sadar. Dan dalam senyum simpul ituhidup menemukan maknanya yang paling tenang.

*Kesederhanaan Lahir Kedalaman*

Puisi Didu mungkin tampak seperti permainan kata sederhana. Tapi jika kita perhatikan bait berikut:

_tak perlu diet_

_makan saja_

_seolah jadi patron_

Di sini terselip paradoks yang menohok. Dalam dunia yang gemar membatasiajakan untuk “makan saja” bisa terbaca sebagai perlawanan terhadap sistem yang menekan spontanitas manusia. Didu mengubah tindakan sehari-hari—makan—menjadi simbol kebebasan eksistensial.

“Makan saja” bukan berarti serakah atau abai pada kesehatan. Ia lebih menyerupai seruan untuk menyerap kehidupan tanpa rasa takut. Dalam konteks aktivisme yang pernah kami jalani bersamakalimat itu bahkan bisa dibaca sebagai metafora politik: jangan terlalu banyak “diet” idealismejangan membatasi keberanianjangan menahan empati. Hidup bukan tentang menolaktapi tentang menerima dan menyalurkan energi kehidupan ke arah yang lebih manusiawi.

Menarik pula bahwa Didu menulis:

_dari konspirasi pelik_

__bertabur tanda tanya_

_di tengah kesederhanaan__

Ada pengakuan bahwa dunia memang rumit—penuh konspirasipenuh tanda tanya. Namundi tengah semua ituDidu memilih kesederhanaan sebagai jalan. Mungkin inilah bentuk kedewasaan sejati: memahami bahwa hidup tak perlu selalu dijelaskantak perlu selalu benarcukup dijalani dengan jujur dan sederhana.

Saya masih ingatdulu Didu adalah orang yang paling keras kepala di antara kami. Dalam setiap diskusi di kampussuaranya lantangide-idenya tajamdan semangatnya seperti tak pernah padam. Tapi kinilewat catatan pendek itusaya melihat Didu yang lain: lebih tenanglebih dalamlebih memahami diam.

Ketika saya membaca pesannyasaya justru terdiam. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Mungkin karena saya sadar bahwa dalam perjalanan hidupbanyak dari kita telah “berdiet” terlalu lama—menahan rasamembatasi impianmenekan keinginan untuk sekadar menikmati hidup apa adanya. Kita terlalu sibuk mempercantik diri di luarsampai lupa memberi makan batin sendiri.

Pesan Didu seperti menampar dengan lembut: berhentilah menahan diri berlebihan. Nikmatilah kehidupansebagaimana adanya. “Makan saja”—bukan sekadar untuk tubuhtapi juga untuk jiwa.

Dalam konteks spiritualitas yang lebih luaskalimat itu bahkan bisa dibaca sebagai ajakan untuk merasakan sepenuhnya keberadaan. Bahwa setiap detik kehidupan—dengan rasa pahitmanisgetirasin—adalah santapan yang membentuk manusia seutuhnya. Menolak rasa adalah menolak hidup itu sendiri.

*Menemukan Makna dalam Keluguan*

Kinisetiap kali saya ingat Didu dan catatan kecilnyasaya belajar untuk tidak terlalu rumit memahami dunia. Kadangkebijaksanaan tidak datang dari buku tebal atau pidato panjangmelainkan dari selembar tulisan sederhana yang keluar dari hati yang tulus.

“Gak perlu dietmakan saja,” adalah seruan untuk kembali menjadi manusia yang utuh. Ia mengingatkan bahwa hidup tidak selalu harus sempurnatidak harus rampingtidak harus terkendali sepenuhnya. Hidup adalah tentang rasa—dan rasa itu hanya bisa hadir jika kita berani mencicipinya tanpa takut.

Didudengan senyum simpulnyatelah memberi pelajaran mendalam tentang makna hidup. Ia mengajarkan bahwa kesederhanaan bukanlah kebodohanmelainkan bentuk paling jernih dari kebijaksanaan.

Dan mungkindalam keheningan saya yang panjang setelah membaca puisinyasaya mulai benar-benar mengerti:

kadang yang paling manusiawi yang bisa kita lakukan hanyalah makan saja—

menelan hidup bulat-bulattanpa perlu “diet” dari rasadari lukadari cintadari dunia.

#Akuair-Ampenan28-10-2025

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

Dinsos Lobar dan HARSA NTB Jemput Bola, Bantu Lansia Tak Tersentuh BPJS 

Lombok Barat – Pemerintah Kabupaten Lombok Barat melalui Dinas Sosial (Dinsos) dan organisasi Harmoni Sahabat (HARSA) NTB bergerak cepat membantu Nenek Kelilansia 90 tahun...

Gubernur NTB Kutuk Kekerasan Seksual di Lombok Timur, Tegaskan Pesantren Tak Boleh Distigma

Mataram – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Lalu Muhamad Iqbal mengutuk keras dugaan tindak kekerasan seksual terhadap dua santriwati yang diduga dilakukan oleh pimpinan...

Fornas VIII 2025 Suguhkan Opening Ceremony Spektakuler, NTB Siap Sambut Nusantara

Mataram - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat bersama Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) terus mematangkan persiapan pembukaan Festival Olahraga Masyarakat Nasional (FORNAS) VIII yang...

Zulhas Tunjuk Langsung Pimpinan PAN NTB, Aminurlah:  Strategi Baru Menangkan Pemilu 2029

Lombok Tengah – Penunjukan langsung Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Zulkifli Hasan atau Zulhas terhadap pimpinan DPW PAN Nusa Tenggara Barat (NTB)...

Kuasa Hukum Ipda Aris Soroti Kejanggalan Proses Hukum Kasus Kematian Brigadir Nurhadi 

Mataram -  Kuasa hukum terdakwa Ipda I Gede Aris Chandra Widianto,  dalam kasus kematian Brigadir Nurhadi di Gili TrawanganI Gusti Lanang BratasutaS.H.M.H.menilai banyak kejanggalan...