Mataram – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) memberikan klarifikasi terkait beredarnya informasi kenaikan harga cabai rawit merah yang disebut-sebut menembus Rp200 ribu per kilogram di sejumlah wilayah Pulau Lombok.
Kepala Dinas KomunikasiInformatika dan Statistik NTB sekaligus Juru Bicara Pemprov NTBAhsanul Khalikmenegaskan pemerintah tidak menutup mata terhadap adanya kenaikan harga. Namunberdasarkan hasil pemantauan lapangan dan data resmi Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP)lonjakan tersebut bersifat fluktuatif dan tidak merata di seluruh pasar.
“Hasil penelusuran bersama perangkat daerah menunjukkan memang ada kenaikan harga cabai rawit merahtetapi tidak terjadi secara umum hingga Rp200 ribu per kilogram di seluruh pasar besar di Pulau Lombok,” ujar Khalikyang akrab disapa Aka.
Fluktuasi Harga di Sejumlah Pasar
Berdasarkan pantauan di Pasar Mandalika Bertaisharga cabai rawit merah sejak Senin (16/2/2026) berada di kisaran Rp100 ribu per kilogramsempat naik menjadi Rp105 ribulalu kembali turun ke Rp100 ribu. Pada Jumat (20/2) harga meningkat menjadi Rp140 ribuSabtu mencapai Rp170 ribudan kembali turun pada Ahad (22/2/2026) ke sekitar Rp120 ribu per kilogram.
Sementara hasil pengecekan di Pasar Masbagik dan Pasar Paok MotongLombok Timurserta Pasar Renteng PrayaLombok Tengahmenunjukkan harga masih berada pada kisaran Rp120 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram.
Adapun di Kota Mataramharga Rp200 ribu per kilogram sempat ditemukan di satu titikyakni Pasar Dasan Agung. Namunkondisi tersebut tidak terjadi di pasar-pasar lainnya dan hanya berlangsung terbatas.
Menurut Akaangka Rp200 ribu yang ramai diperbincangkan publik sebagian besar berasal dari harga pedagang keliling yang menjual cabai rawit merah Rp50 ribu per seperempat kilogram. Jika dikalkulasikanharga tersebut setara Rp200 ribu per kilogramtetapi bukan merupakan harga rata-rata pasar.
“Kami perlu meluruskan agar masyarakat mendapat gambaran yang utuh. Ada kenaikaniya. Tetapi tidak merata dan tidak berlangsung di semua pasar,” tegasnya.
Aka menjelaskankenaikan harga dipengaruhi meningkatnya permintaan menjelang Ramadankondisi panen yang belum merata akibat faktor cuacaserta dinamika distribusi. Pola inilanjutnyahampir selalu terjadi setiap tahun menjelang bulan puasa.
Pemerintah juga mengajak seluruh pelaku usahamulai dari pengepul hingga pedaganguntuk menjaga stabilitas harga dan tidak memanfaatkan momentum meningkatnya permintaan dengan menaikkan harga secara tidak wajar.
“Mari kita jaga suasana Ramadan dengan mengedepankan kepedulian sosial. Harga harus tetap logis dan terjangkau agar masyarakat bisa menjalani ibadah dengan tenang,” ujarnya.
Pemprov NTBlanjut Akaterus melakukan pemantauan harian harga bahan pokokberkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kotaserta menyiapkan langkah intervensi apabila diperlukantermasuk melalui pasar murah dan penguatan distribusi.
“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan berbelanja secara bijak. Pemerintah hadir untuk memastikan ketersediaan dan keterjangkauan harga pangan bagi seluruh warga NTB,” pungkasnya. (F*)
Ket. Foto:
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal saat sidak di pasar Mandalika. (Ist)

