Mataram – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menanggapi sejumlah pandangan publik yang mempertanyakan klaim penguatan fondasi transformasi ekonomi dan sosialdengan anggapan bahwa kondisi tersebut belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.
Gubernur NTB H. Lalu Muhamad Iqbal melalui Kepala Dinas KomunikasiInformatika dan Statistik NTB sekaligus Juru Bicara Pemerintah Provinsi NTBDr. H. Ahsanul Khalikmenegaskan bahwa persepsi tersebut perlu dilihat dalam konteks yang lebih utuhterutama dinamika ekonomi NTB sepanjang 2025.
Aka menjelaskanpertumbuhan ekonomi adalah indikator makro yang mencerminkan pergerakan mesin produksi daerah meliputi aktivitas industriperdaganganinvestasidan konsumsibukan ukuran langsung atas kenyamanan hidup harian masyarakat.
“Karena itu wajar apabila masyarakat masih merasakan adanya tekanan biaya hidupsementara indikator ekonomi makro mulai membaik. Ini bukan kontradiksitetapi jeda waktu antara pemulihan ekonomi dan dampaknya ke rumah tangga,” jelas Aka.
Ia menjelaskan bahwa NTB memulai tahun 2025 dari kondisi yang tidak normal. Pada awal tahunperekonomian daerah sempat terkontraksi hingga minus 1,47 persen akibat persoalan teknis pada operasional smelter yang berdampak langsung pada sektor pertambangansalah satu kontributor terbesar PDRB NTB. Kondisi tersebut bukan disebabkan melemahnya daya beli masyarakat maupun lesunya sektor riil.
“Artinyapemerintah daerah bekerja dari titik awal kontraksibukan dari situasi ekonomi yang stabil. Dalam kondisi seperti iniprioritas utama adalah menghentikan penurunanmenormalkan kembali mesin ekonomimenjaga daya beliserta memastikan sektor-sektor produktif tetap bergerak,” ujarnya.
Hasilnyahingga akhir 2025 pertumbuhan ekonomi NTB berhasil ditutup pada level positif sebesar 3,22 persen secara kumulatif. Jika dihitung dari titik terendah minus 1,47 persenterjadi lonjakan pertumbuhan sebesar 4,69 poin hanya dalam satu tahun. Angka ini enam kali lipat lebih besar dibandingkan kenaikan yang dirancang dalam RPJMD 2025 yang hanya sekitar 0,70 poin.
“Ini menunjukkan bahwa tahun pertama kepemimpinan Iqbal–Dinda bukan sekedar menjaga ekonomi agar tidak jatuh lebih dalamtetapi mampu membalik kontraksi menjadi pemulihan,” tegasnya.
Aka juga menekankan bahwa kebangkitan ekonomi NTB tidak semata bertumpu pada sektor tambangini bukan kita mengabaikan tambang. Tapi ini sisi positif dari pertumbuhan ekonomi NTBdi tengah gangguan teknis pertambangandi mana sektor non-tambang menunjukkan kinerja solid. Pertanian tumbuh positif didorong panen rayaperdagangan bergerak seiring meningkatnya aktivitas ekonomijasa dan pariwisata mulai pulihkonsumsi rumah tangga tumbuhpengangguran menurunserta proporsi pekerja formal meningkat.
Bahkanberdasarkan penjelasan Kepala Badan Pusat Statistik NTB dalam satu Podcast dengan Media Antara News NTB (09/02/26)apabila sektor tambang bijih logam dikeluarkan dari perhitunganpertumbuhan ekonomi NTB justru mencapai lebih dari 8 persen secara kumulatif dan di atas 13 persen secara tahunan. Hal ini menegaskan bahwa ekonomi rakyat yang bertumpu pada pertanianperdaganganjasadan konsumsi tetap berjalan dan menjadi penopang utama pemulihan.
Terkait istilah “fondasi transformasi ekonomi dan sosial”Aka meluruskan bahwa yang dimaksud bukanlah klaim bahwa masyarakat sudah sepenuhnya sejahtera. Fondasi transformasi berarti indikator-indikator awal perubahan struktural mulai terbentuk: industri pengolahan mulai beroperasisektor non-tambang menguatlapangan kerja kembali terbukadan daya beli masyarakat terjaga.
“Ini adalah fase awal. Analogi sederhananyafondasi rumah sudah dicortetapi bangunannya belum selesai. Tahun 2025 adalah tahun stabilisasi dan pemulihanbukan tahun panen hasil,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa tekanan yang dirasakan masyarakat saat ini banyak dipengaruhi oleh inflasi pangan nasionalseperti harga berascabaidaging ayamdan tarif listrikyang tidak sepenuhnya berada dalam kendali pemerintah daerah. Oleh karena itutidak tepat jika seluruh beban biaya hidup langsung disimpulkan sebagai kegagalan pertumbuhan ekonomi NTB.
Lebih jauhAka menegaskan bahwa capaian penting sepanjang 2025 justru terletak pada keberhasilan pemerintah daerah mencegah dampak sosial yang lebih berat. Dengan kontraksi besar di awal tahunNTB sebenarnya berhadapan dengan risiko meningkatnya pengangguranturunnya daya belihingga lonjakan kemiskinan. Namun yang terjadi justru sebaliknya: konsumsi rumah tangga tumbuhpengangguran menurunlapangan kerja bertambahdan ekonomi kembali positif.
“Ini adalah kerja-kerja pencegahan krisis yang sering tidak terlihattetapi sangat menentukan. Kalau pemerintah gagalindikator-indikator dasar itu justru akan memburuk,” ujarnya.
Menutup pernyataannyaKhalik menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi NTB di bawah kepemimpinan Iqbal–Dinda saat ini sedang menata ulang arah pertumbuhan ekonomi agar lebih inklusif dan berbasis sektor padat karyadengan penguatan pertanianUMKMindustri pengolahandan pariwisata.
“Menyebut fondasi transformasi ekonomi bukan berarti mengatakan rakyat sudah sejahtera. ArtinyaNTB berhasil keluar dari kontraksi dan menyalakan kembali mesin ekonominya. Tahun 2025 adalah tahun penyelamatan dan pemulihan. Ke depanfokus kita memastikan pertumbuhan itu konsistenmemberi nilai tambah lokaldan benar-benar dirasakan masyarakat,” pungkasnya. (F*)
Ket. Foto:
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal didampingi Kasia Kominfotik NTB Ahsanul Khalik. (Ist)
Sumber : Diskominfotik NTB

