Wartawan dan Integritas, Pesan Tegas dari Ketua DKD PWI NTB

Mataram – Profesi wartawan bukan sekadar soal menulis berita. Ia adalah amanah. Amanah untuk menjaga kata, menjaga kebenaran, dan menjaga nurani publik. Karena itu, Ketua DKD PWI NTB, Abdus Syukur, mengingatkan dengan tegas: jangan sekali-kali menyalahgunakan profesi wartawan.

“Kalau profesi ini disalahgunakan, ia tidak lagi menjadi cahaya, tapi justru bayangan gelap. Lebih baik mundur dengan hormat daripada mengotori nama organisasi dan merusak kepercayaan masyarakat,” ucapnya, Selasa, (23/9).

Ucapan itu bukan hanya sekadar peringatan, melainkan juga sebuah renungan moral. Wartawan, kata Abdus Syukur, adalah sosok yang seharusnya berdiri di garis depan menjaga akal sehat bangsa. Ia bukan hanya pembawa kabar, tetapi juga penafsir realitas yang dengan karyanya bisa menuntun masyarakat menuju kebenaran.

Namun, ketika profesi ini dipakai untuk kepentingan sempit menekan, menakut-nakuti, atau mencari keuntungan pribadi, maka runtuhlah marwahnya. “Integritas itu pondasi. Kalau dari awal sudah menyimpang, bagaimana kita bisa bicara soal kebenaran? Jangan menodai profesi ini dengan kepentingan sesaat,” ujarnya.

Kode Etik Sebagai Penjaga Jalan

Menurut Abdus Syukur, aturan organisasi dan kode etik jurnalistik bukanlah belenggu, melainkan pagar yang menjaga wartawan agar tetap berada di jalan lurus. Aturan itu berlaku bagi semua, tanpa kecuali. Baik bagi anggota muda yang baru menapak, maupun anggota senior yang sudah kenyang pengalaman.

“Profesi ini bukan tempat untuk bermain-main. Kalau tidak siap jujur, lebih baik tinggalkan. Jangan sampai wartawan justru melukai martabat kewartawanan itu sendiri,” tegasnya.

Pernyataan Abdus Syukur sejatinya bukan hanya ancaman. Ia adalah panggilan jiwa. Sebuah doa agar insan pers kembali menyadari siapa dirinya. Wartawan bukanlah makhluk yang sempurna, tapi ia dituntut untuk terus menjaga akhlak, sebab tanpa akhlak berita hanyalah deretan kata yang kehilangan makna.

Dalam konteks masyarakat yang sedang gelisah oleh banjir informasi dan lautan hoaks, wartawan seharusnya tampil sebagai penjernih, bukan malah memperkeruh. Wartawan seharusnya hadir sebagai penuntun, bukan penyesat.

Seperti diingatkan Abdus Syukur, jika ada yang memilih jalan menyalahgunakan profesi ini, sesungguhnya ia sedang menutup pintu kepercayaan publik. Dan tanpa kepercayaan publik, wartawan hanya akan menjadi sosok yang kehilangan tempat di hati masyarakat.

Maka, pesan Ketua DKD PWI NTB yang juga Ketua SMSI NTB itu, seakan menjadi cermin bagi seluruh insan pers. Apakah kita masih setia pada nurani, atau justru tergoda pada kuasa dan kepentingan sesaat? (red)

Ket. Foto:

Ketua DKD PWI NTB, Abdus Syukur. (Ist)

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

DPRD NTB Sambut Baik Penurunan Biaya Haji 2025, Harap Pelayanan Tetap Prima

Mataram - Pemerintah melalui Kementerian Agama bersama Komisi VIII DPR RI telah menetapkan biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) untuk musim haji 1446 H/2025 M....

Pemprov NTB Siapkan Dua Skema Atasi Persoalan Sampah di TPA Kebon Kongok

Mataram  - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyiapkan langkah terukur untuk menyelesaikan persoalan persampahan yang melibatkan Kota Mataram dan Kabupaten Lombok Barat, khususnya...

NTB Jadi Provinsi Pertama Teken MoU Blue Economy dengan KKP RI

Jakarta – Langkah proaktif Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam membangun komunikasi dengan pemerintah pusat membuahkan hasil strategis. NTB resmi menjadi provinsi pertama...

Kantor Pertanahan Kota Mataram Buka Booth Layanan Informasi Pertanahan di CFD Udayana

Mataram – Kantor Pertanahan Kota Mataram membuka Booth Layanan Informasi Pertanahan pada kegiatan Car Free Day (CFD) di kawasan Udayana, Minggu (7/6/2026). Kegiatan...

Rapat Paripurna DPRD, Penjabat Gubernur NTB Sampaikan LKPJ Tahun Anggaran 2024

Mataram - Dalam Rapat Paripurna yang digelar DPRD NTB, Penjabat Gubernur NTB, Meyjen (Purn) Dr. Hassanudin, M.M menyampaikan Laporan Keterangan PertanggungJawaban (LKPJ) tahun anggaran...