Lombok Barat – Anggota Komisi V DPR RIH. Abdul Hadisecara resmi membuka kegiatan Workshop SAR bertema “Pemberdayaan Masyarakat dalam Bidang Pencarian dan Pertolongan” di MataramNusa Tenggara Barat (14/7/2025). Dalam sambutannyaAbdul Hadi menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dan pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi berbagai potensi bencana yang kerap melanda wilayah NTB.
“NTB ini indah dan mendunia bukan hanya karena alam dan event-nyatapi juga karena kerentanannya terhadap bencana yang bisa saja mendunia,” ujar Abdul Hadi.
Ia menyoroti kejadian bencana terbaru di Kota Mataram yang disebut sebagai salah satu yang terbesar dalam 40 tahun terakhir. Menurutnyabencana memang tidak bisa dihindaritetapi dapat dikelola dan diminimalkan dampaknya melalui kerja sama yang kuat antarinstansi dan masyarakat.

Personel SAR TerbatasSinergi Jadi Solusi
Abdul Hadi mengungkapkan bahwa personel Basarnas NTB yang hanya berjumlah sekitar 130 orang sangat tidak memadai untuk menjangkau seluruh wilayah di 10 kabupaten/kota. Oleh karena ituia mendorong sinergi antara SARTNIPolriBPBDDamkardan unsur masyarakat untuk menjadi garda terdepan dalam penanganan bencana.
“Yang paling utama itu adalah masyarakat. Mereka seringkali menjadi pihak pertama yang menolongseperti pada kejadian pendaki jatuh di Rinjani baru-baru ini,” jelasnya.
Pentingnya Pelatihan dan Kekuatan Fisik
Abdul Hadi juga menekankan pentingnya pelatihan berkelanjutantidak hanya dalam keterampilan teknis tetapi juga dalam penguatan fisik dan mental. Ia bahkan mengusulkan pelatihan khusus bagi porter dan masyarakat di kawasan rawan bencana seperti daerah pegunungan.
“Fisik yang kuat dan keterampilan yang baik sangat penting dalam medan ekstrem. Muslim yang kuat lebih dicintai Allahdan para relawan harus siap secara lahir dan batin,” tegasnya.
Dorongan Penambahan Anggaran SAR
Pada kesempatan tersebutAbdul Hadi juga menyampaikan usulan peningkatan anggaran Basarnas menjadi Rp2,3 triliun dalam RAPBN 2026. Anggaran tersebut disebutnya masih sangat kecil dibandingkan total APBN yang mencapai lebih dari Rp3.000 triliun.
“Jika terealisasiini akan sangat membantu dalam pengadaan peralatanpelatihandan respons cepat terhadap bencana,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti pentingnya data manifest penumpang dalam transportasi lautyang sering kali tidak tercatat dengan lengkapsehingga menyulitkan proses evakuasi dan pencarian korban bila terjadi kecelakaan.
Mengakhiri sambutannyaAbdul Hadi mengajak seluruh peserta workshop untuk serius mengikuti pelatihan dan mempercepat proses transfer ilmu. Ia berharap kegiatan ini memberi manfaat besar bagi kesiapsiagaan masyarakat NTB dalam menghadapi bencana.

