MATARAM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan mulai diuji coba di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Meski mendapat respons positif, perluasannya masih menghadapi kendala fasilitas dan operasional.
Ketua Satgas MBG NTB, Fathul Gani, menyampaikan perlunya dukungan tambahan dari Badan Gizi Nasional (BGN), terutama untuk sarana penyajian dan tenaga pelaksana.
Satu dapur melayani banyak sekolah
Salah satu tantangan adalah jarak antarsekolah penerima manfaat. Satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dapat melayani hingga 14 sekolah yang letaknya berjauhan.
Penerapan prasmanan membutuhkan meja penyajian yang memadai serta petugas untuk mengatur antrean siswa. Sekolah dengan ratusan siswa memerlukan lebih dari satu titik pelayanan agar pembagian makanan tetap tertib.
Pengolahan makanan tetap di dapur SPPG
Perubahan menjadi sistem prasmanan terutama menyangkut cara makanan disajikan. Pengolahan menu tetap dilakukan di dapur SPPG sebelum makanan dikirim ke sekolah.
Satgas MBG NTB mengusulkan perluasan uji coba dilakukan secara bertahap, termasuk mempertimbangkan sekolah di kawasan perkotaan seperti Mataram dan Bima.
Selain ketersediaan fasilitas, kebersihan, ketepatan distribusi, dan waktu penyajian perlu menjadi bagian dari evaluasi sebelum sistem ini diterapkan lebih luas.

