Soroti OTT di Lotim, DKP PWI NTB : Profesi Wartawan Jangan jadi Tameng

Mataram – Operasi tangkap tangan di wilayah Kabupaten Lombok Timurmenyeret seorang pria yang mengaku wartawan. Kasus ini memicu kegelisahan di kalangan insan pers di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Bukan sekadar dugaan pemerasan dan penyalahgunaan narkobakasus ini ikut menyeret nama profesi wartawan sebagai “tameng” tindakan melanggar hukum.

Ketua Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) PWI NTBH. Abdus Syukurangkat suara tegas. Ia menilai peristiwa tersebut tidak mencerminkan dunia jurnalistik.

“Jangan nodai profesi pers. Apa yang terjadi ini bukan wajah wartawanmelainkan penyalahgunaan identitas oleh oknum,” ujarnyaSelasa (31/3/2026)di Mataram.

Ia menekankanprofesi wartawan berdiri di atas kepercayaan publik dan integritas. Praktik meminta uang dengan ancaman pemberitaantidak memiliki tempat dalam kerja jurnalistik.

“Itu bukan pers. Itu tindakan kriminal,” tegasnya.

Menurutnyakerja wartawan berjalan melalui tahapan jelas seperti verifikasikonfirmasihingga tanggung jawab redaksi. Tidak ada ruang untuk praktik transaksional gelap.

Kasus di Lombok Timur pun dinilai masuk ranah pidanabukan sengketa pers ataupun produk jurnalistik.

“Pers tidak boleh dijadikan perisai untuk melindungi pelanggaran hukum,” katanya.

Fenomena wartawan gadungan juga disorot. Mereka kerap muncul tanpa identitas jelastanpa redaksinamun berani menekan bahkan mengintimidasi.

Situasi ini dinilai berbahayakarena ulah satu orang bisa berdampak luas pada citra profesi.

Ia pun mengajak masyarakat lebih waspada. Jika menemukan pihak yang mengaku wartawan namun bertindak di luar etikamasyarakat diminta tidak takut dan tidak melayani permintaan mencurigakan.

“Wartawan yang benar tidak bekerja dengan ancaman. Ia bekerja dengan fakta,” ujarnya.

Di sisi lainAbdus Syukur yang juga Ketua SMSI NTB mengingatkan media agar cermat dalam menyusun pemberitaan. Penggunaan istilah seperti “oknum” atau “mengaku wartawan” dinilai pentingagar tidak menimbulkan generalisasi.

Di akhir pernyataannyaia kembali menegaskan pentingnya menjaga marwah profesi.

“Jika ada yang memeras dengan mengatasnamakan persmaka dia bukan wartawan. Dia pelaku kejahatan yang kebetulan membawa nama pers,” pungkasnya. (F*)

Ket. Foto:

Ketua DKP PWI NTB sekaligus Ketua SMSI NTBH. Abdus SyukurSH. (Ist) 

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

Aset Pemprov NTB Lepas, Suhaimi :  Kalah di MA, Jangan Salahkan Mafia Tanah

Mataram - Anggota Komisi I DPRD Provinsi NTBSuhaimimenyatakan akan memanggil Biro Hukum Setda NTB untuk mendalami persoalan hukum yang mengakibatkan Pemprov NTB kalah dalam...

BPK Beri Pengakuan atas Reformasi Keuangan Pemprov NTB di Bawah Iqbal-Dinda

Mataram  – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat kembali mempertahankan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) untuk ke-15 kalinya secara berturut-turut atas Laporan Keuangan Tahun...

Kantor Pertanahan Kota Mataram Matangkan Persiapan Peluncuran Layanan PERINTIS

Kantor Pertanahan Kota Mataram menggelar rapat persiapan peluncuran Layanan Peralihan Hak Terintegrasi (PERINTIS) yang dijadwalkan pada 24 September 2026. Pertemuan ini berfokus pada kesiapan...

Bupati LAZ Gerak Cepat Turun ke Lokasi Banjir di Lobar 

Lombok Barat - Bupati Lombok Barat H.Lalu Ahmad Zaini bersama jajarannya gerak cepat langsung turun ke sejumlah lokasi banjir di Lombok Barat. Hal tersebut...

Kesalahpahaman di Jalan Picu Keributan Antarwarga di Pagutan, Polisi Amankan Enam Terduga dan Tempuh Mediasi

Mataram – Kericuhan antar warga sempat terjadi di wilayah PagutanKecamatan MataramKota MataramMinggu malam (22/03/2026). Insiden tersebut dipicu kesalahpahaman di jalan raya yang berkembang menjadi...