Ibu Kandung Vira Histeris Usai Vonis Radit: “Nyawa Anak Saya Hanya Dihargai 6 Tahun” 

  Mataram – Putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Mataram yang menjatuhkan hukuman enam tahun penjara kepada Radit Ardhiansyah alias Radit, terdakwa dalam kasus kematian mahasiswi Ni Made Vaniradya Puspa Nitra alias Vira, memicu kekecewaan mendalam dari keluarga korban dan tim kuasa hukumnya.

Dalam sidang putusan yang digelar Rabu (10/6), majelis hakim menyatakan Radit terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa dengan pidana penjara selama enam tahun,” ujar majelis hakim saat membacakan amar putusan.

Vonis tersebut jauh lebih rendah dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang sebelumnya meminta majelis hakim menjatuhkan hukuman 13 tahun penjara kepada terdakwa. 

Jaksa menilai Radit bertanggung jawab atas kematian Vira yang jasadnya ditemukan di kawasan Pantai Nipah. Namun, majelis hakim menjatuhkan hukuman enam tahun penjara berdasarkan pertimbangan fakta-fakta yang terungkap selama persidangan.

Putusan itu langsung memicu reaksi emosional dari keluarga korban. Tangis pecah di ruang sidang sesaat setelah vonis dibacakan. Ibu korban, Ning Purnamawati, tak kuasa menahan kesedihan dan kekecewaannya.

Dengan suara histeris ia mempertanyakan di mana keadilan untuk anaknya. 

Suasana sempat memanas karena keluarga dan kerabat korban tidak menerima putusan yang dinilai terlalu ringan. Mereka menilai hukuman tersebut belum sebanding dengan kehilangan yang harus ditanggung keluarga.

“Dimana keadilan itu? Nyawa anak saya hanya dihargai 6 tahun. Saya tidak akan pernah bisa bertemu anak saya lagi. Dimana kejadian itu?,” ucapnya dengan tangisan histeris.

Kekecewaan serupa juga disampaikan kuasa hukum keluarga korban, I Made Pasek Sandiyartike. Menurutnya, putusan majelis hakim jauh dari rasa keadilan yang selama ini diperjuangkan pihak keluarga.

“Kami sangat kecewa dengan putusan yang dijatuhkan majelis hakim. Putusan ini jauh dari harapan keluarga korban dan rasa keadilan yang seharusnya diperoleh,” tegasnya usai persidangan.

Kuasa hukum keluarga korban, I Made Pasek Sandiyartike, juga mempertanyakan konstruksi hukum yang digunakan majelis hakim dalam memutus perkara tersebut. Menurutnya, sejak awal perkara ini bergulir dengan dugaan tindak pidana pembunuhan, namun dalam putusan hakim terdakwa dinyatakan bersalah melakukan penganiayaan yang mengakibatkan korban meninggal dunia.

“Ini yang menjadi pertanyaan besar bagi kami. Sejak proses penyidikan hingga persidangan, perkara ini dipandang sebagai dugaan pembunuhan. Namun pada akhirnya hakim memutus sebagai penganiayaan yang menyebabkan kematian. Tentu kami akan mempelajari secara mendalam pertimbangan hukum majelis hakim,” ujar Pasek.

Ia menegaskan pihak keluarga korban merasa putusan tersebut belum sepenuhnya mengakomodasi fakta-fakta yang terungkap selama persidangan. Karena itu, tim kuasa hukum akan segera berkoordinasi dengan keluarga korban dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk menentukan langkah hukum selanjutnya.

“Kami sangat kecewa. Setelah menerima salinan putusan, kami akan berdiskusi dengan keluarga dan berkomunikasi dengan JPU. Kemungkinan upaya hukum lanjutan tentu terbuka apabila ditemukan alasan-alasan yang kuat untuk memperjuangkan rasa keadilan bagi korban dan keluarganya,” tegasnya.

Menurut Pasek, keluarga korban berharap perkara yang telah menyita perhatian publik tersebut dapat memberikan kepastian hukum dan rasa keadilan yang sebanding dengan kehilangan nyawa korban

Pasek mengatakan pihaknya akan segera berkoordinasi dengan keluarga korban serta Jaksa Penuntut Umum untuk menentukan langkah hukum berikutnya.

“Kami akan berunding terlebih dahulu dengan keluarga korban dan berkomunikasi dengan JPU untuk membahas langkah selanjutnya. Tidak menutup kemungkinan akan ditempuh upaya hukum lanjutan terhadap putusan ini,” ujarnya.(F*)

Ket. Foto:

Ibu kandung korban, Ning Purnamawati didampingi kuasa hukumnya, menangis histeris mengungkapkan kekecewaannya terhadap putusan hakim yang memvonis terdakwa Radit 6 tahun penjara. (/fit)

Discover

Sponsor

spot_imgspot_img

Latest

Nyaris Jadi Sasaran Amukan Massa, Pria di Ampenan Diamankan Polisi

Mataram - Seorang pria berinisial LEJ (56), warga Kabupaten Lombok Timur, nyaris menjadi korban amukan massa di Lingkungan Kampung Bugis, Kelurahan Bintaro, Kecamatan Ampenan,...

Gubernur NTB Lantik Pengurus LPTQ dan Dewan Pengelola Islamic Center Periode 2026–2031

Mataram - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat resmi melantik Pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Provinsi NTB dan Dewan Pengelola Islamic Center Provinsi NTB...

BPOM Mataram Edukasi Pangan Aman dan Gizi Seimbang di Sekolah 

Mataram -  Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keamanan pangan sejak dini, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Mataram memberikan edukasi...

Lantik 35 Pejabat Fungsional, Sekda NTB Dorong Birokrasi Fleksibel dan Berbasis Hasil

Mataram — Sebanyak 35 pejabat fungsional lingkup Pemerintah Provinsi NTB resmi dilantik. Pelantikan yang dipimpin langsung Sekretaris Daerah (Sekda) NTB, Abul Chair, itu menjadi bagian...

Tutup 2025, Polda NTB Musnahkan Barang Bukti Narkotika 

Mataram - Polda Nusa Tenggara Barat (NTB) menutup rangkaian kinerja sepanjang tahun ini  dengan memusnahkan berbagai barang bukti narkotika hasil pengungkapan kasus 2025. Pemusnahan...