Mataram — Pemerintah Pusat menetapkan Teluk EkasLombok Timursebagai lokasi International Tropical Seaweed Research Center (ITSRC) atau Pusat Riset Rumput Laut Tropis Duniasebagai bagian dari strategi nasional penguatan ekonomi pesisir dan hilirisasi sektor kelautan.
Wakil Menteri Pendidikan TinggiSainsdan Teknologi Stella Christie menegaskan bahwa penguatan riset rumput laut merupakan langkah strategis untuk mewujudkan Indonesia sebagai pusat rumput laut duniasejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnyapembangunan ITSRC di Teluk Ekas menjadi fondasi awal membangun ekosistem riset bertaraf global sekaligus mendorong transformasi ekonomi pesisir berbasis ilmu pengetahuan.
Indonesia saat ini merupakan produsen rumput laut tropis terbesar di dunia dengan penguasaan sekitar 75 persen pasar global. Nilai ekonomi rumput laut dunia mencapai sekitar 12 miliar dolar AS per tahun dan diproyeksikan terus meningkat. Namunposisi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan penguatan riset dan hilirisasi di dalam negeri. Karena ituITSRC dirancang sebagai simpul kolaborasi nasional dan internasionaltermasuk kerja sama dengan University of CaliforniaBerkeleyserta Beijing Genomics Institute (BGI) dari Tiongkok. BGI berkomitmen mendukung pendanaan sekitar Rp3 miliar untuk dua tahun pertamasementara Kementerian Pendidikan TinggiSainsdan Teknologi mengalokasikan Rp1,5 miliar pada tahap awal.
Sejumlah fasilitas akan dibangun di kawasan ITSRCantara lain gedung penelitianasrama peneliti internasionalapotekserta sarana pendukung lainnya. Secara ekologisTeluk Ekas dinilai ideal sebagai living laboratory karena memiliki sistem teluk tropis yang relatif terlindung dengan sirkulasi air yang baik. Kawasan ini juga potensial untuk pengembangan berbagai jenis rumput lautseperti KappaphycusCaulerpaUlvadan Halymenia.
Menindaklanjuti penetapan tersebutPemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menyambut positif kehadiran ITSRC di Teluk Ekas. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTBMuslimmenyampaikan apresiasi atas hadirnya pusat riset bertaraf internasional tersebutyang diharapkan menjadi solusi atas persoalan klasik budidaya rumput lautkhususnya kelangkaan bibit unggul.
“Pemprov NTB sangat mengapresiasi kehadiran laboratorium rumput laut ini. Selama ini salah satu kendala utama petani adalah keterbatasan bibit berkualitas. Dengan adanya ITSRCkami berharap masalah tersebut bisa teratasi. Ke depanpusat riset ini juga diharapkan menjadi pusat penelitianpendidikandan pelatihan bagi masyarakat serta seluruh pemangku kepentingan pengembangan rumput laut di NTB,” ujarnya.
Ia menambahkanNTB memiliki potensi besar sebagai sentra budidaya rumput laut nasional. Karena itukolaborasi risetpeningkatan kualitas sumber daya manusiaserta transfer teknologi dari ITSRC diyakini akan mempercepat peningkatan produktivitas sekaligus kesejahteraan masyarakat pesisir.
Sebagai bagian dari penguatan riset dan pengabdian berbasis potensi daerahUniversitas Mataram turut berperan dalam pengembangan ITSRC Ekas Buana Lombok Timur. ITSRC akan dikembangkan sebagai pusat riset rumput laut bertaraf internasional melalui kolaborasi dengan para peneliti duniadilengkapi laboratoriumsarana risethingga dukungan kapal penelitian.
Selain pusat riset rumput lautUniversitas Mataram juga membangun Klinik Spesialis Kedokteran Kelautan sebagai bagian dari penguatan layanan kesehatan wilayah kepulauan sekaligus mendukung pengembangan pendidikan dokter spesialisagar masyarakat pesisir—khususnya di Lombok Timur—dapat memperoleh akses layanan medis yang lebih dekat dan berkualitas.
Melalui kehadiran ITSRCPemprov NTB optimistis Teluk Ekas akan berkembang sebagai pusat inovasi rumput laut tropis duniasekaligus menjadi motor penggerak ekonomi pesisir yang berkelanjutan di Nusa Tenggara Barat. (F*)
Ket. Foto: Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTBMuslim. (Ist)
Sumber : Dinas Kominfotik NTB

