Mataram – Bencana kekeringan masih melanda sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Barat (NTB). Hingga 10 September 2026sebanyak 9 kabupaten/kota tercatat terdampak kekeringan dengan total 263.310 jiwa atau 84.837 kepala keluarga (KK).
Kalak BPBD Provinsi NTB yang diwakili Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi NTBMiftahuddin Ansharymengatakan dari hasil monitoring dampak kekeringan telah meluas hingga 66 kecamatan dan 227 desa di NTB.
“Dari hasil monitoring di Provinsi NTB terdapat dampak bencana kekeringan sementara 66 kecamatan227 desa84.837 KK dan 263.310 jiwa,” ujar Miftahuddinsaat ditemui di kantornyaSenin(14/9).
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakatBPBD kabupaten/kota telah melakukan distribusi air bersih. Hingga saat initotal air bersih yang telah disalurkan mencapai 3.382.300 liter.
Miftahuddin menjelaskandari 9 kabupaten/kota yang terdampaksebanyak 6 kabupaten/kota telah menetapkan status siaga darurat kekeringan. Sementara itutiga kabupaten telah menetapkan status tanggap darurat kekeringan.
Di tingkat provinsiPemprov NTB juga telah menetapkan status Siaga Darurat Kekeringan sebagai langkah antisipasi terhadap dampak kemarau yang semakin meluas.
Dari seluruh wilayah terdampakKabupaten Lombok Timur menjadi daerah dengan jumlah penduduk terdampak paling banyak. Tercatat sebanyak 92.950 jiwa atau 33.910 KK terdampak kekeringan. Lombok Timur saat ini berstatus siaga darurat kekeringan.
Menurut Miftahuddinseluruh wilayah NTB saat ini telah memasuki periode musim kemarau. Kondisi tersebut diperkuat oleh fenomena El Nino serta semakin panjangnya periode Hari Tanpa Hujan (HTH).
Meluasnya wilayah yang masuk dalam level siaga hingga awas akibat HTH yang kian memanjang membuat masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaankhususnya terhadap potensi krisis air bersih.
BPBD mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak dan mengutamakan kebutuhan pokok. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga ketersediaan air di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung.
Selain persoalan air bersihmasyarakat juga diminta mewaspadai ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) maupun kebakaran pemukiman.
“Masyarakat diharapkan dapat menggunakan air secara bijak guna mengantisipasi krisis air bersih,” katanya.
BPBD juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan serta tidak meninggalkan sumber api tanpa pengawasan.
Imbauan tersebut menjadi penting mengingat kondisi lahan yang semakin kering selama musim kemarau sehingga berpotensi mempercepat penyebaran api apabila terjadi kebakaran. (F*)
Ket. Foto:
Kantor Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi NTB. (/fit)

