# Mitigasi Multi Bencana NTB sebagai Investasi Peradaban

- Link: https://koranlombok.com/2026/01/28/mitigasi-multi-bencana-ntb-sebagai-investasi-peradaban/
- Published: 2026-01-28T21:03:37+08:00
- Author: NewsRoom

Catatan Lapangan Gubernur Miq Iqbal Meninjau Bencana Lombok dan Sumbawa

Mataram – Bencana tidak pernah benar-benar “datang tiba-tiba”. Yang sering tiba-
tiba adalah kesadaran kita. Ketika banjir merendam permukimanketika longsor memutus
jalanketika kekeringan memaksa warga antre airatau ketika gempa mengguncang rumah
dan sekolahbarulah semua pihak serentak menyebut kata “mitigasi”. Padahal mitigasi
seharusnya bekerja jauh sebelum hujan turunjauh sebelum retakan tanah munculjauh
sebelum sirene peringatan terdengar. Di titik inilah NTB harus jujur: wilayah kita
tidak kekurangan keberanian untuk bangkittetapi masih membutuhkan ketegasan untuk
mencegah.

Dalam catatan lapangan saat Gubernur NTB Miq Iqbal meninjau sejumlah titik terdampak
bencana di Lombok dan Sumbawaada pesan yang menguat: mitigasi multi bencana bukan
biayamelainkan investasi peradaban. Ini bukan slogan. Ini adalah cara baru membaca
pembangunan. Sebab NTB hidup di lanskap resiko yang komplekshidrometeorologi yang
makin ekstremdegradasi lingkungankerentanan infrastrukturhingga ancaman gempa bumi
yang selalu mengintai. Jika pembangunan hanya mengejar cepat dan besar tanpa menghitung
resikomaka kita sedang membangun di atas fondasi rapuh. Satu bencana besar saja 
cukup untuk membuat kita kembali ke titik nol.

*Rekam Jejak Bencana Sejak 2016: Ini Bukan KebetulanIni Pola*

Catatan dari 2016NTB mengalami rangkaian kejadian bencana yang membentuk pola berulang:
banjirlongsorangin kencangkebakaran hutan dan lahankekeringangelombang ekstremhingga
gempa bumi. Kita menyaksikan bagaimana banjir dan longsor kerap datang setelah hujan
intensitas tinggimemutus akses jalan dan merusak permukiman. Kita juga mengalami
musim kemarau yang kerasketika beberapa wilayah harus berjuang memenuhi kebutuhan
air bersih. Kebakaran hutan dan lahan muncul di periode tertentumenambah ancaman
kesehatan dankerusakan ekologi.

Puncak ujian itu terjadi pada Gempa Lombok 2018yang menjadi salah satu catatan paling
traumatik dalam sejarah kebencanaan NTB. Gempa bukan hanya mengguncang bangunantetapi
mengguncang sendi sosial-ekonomi: rumah warga rusakfasilitas publik lumpuhaktivitas
pendidikan terganggulayanan kesehatan terhambatdan pemulihan membutuhkan waktu panjang.
Setelah ituNTB tetap menghadapi ancaman berulangterutama bencana hidrometeorologi
yang makin sering dan makin “tidak ramah”seiring perubahan iklim yang menggeser 
pola musimmemperpanjang kekeringandan memadatkan hujan dalam durasi pendek namun
intensitas tinggi.

Rangkaian peristiwa ini mengirim pesan yang tidak boleh kita abaikan: bencana di
NTB bukan anomalimelainkan realitas struktural. Karena itusolusi kita tidak boleh
insidental. Tidak bisa lagi sekedar “pemadam kebakaran”. Yang dibutuhkan adalah 
perubahan cara berpikir: dari respons ke resikodari reaktif ke proaktifdari sektoral
ke sistemik.

*Dari Teori ke Aksi: Kebencanaan Harus Menjadi Bagian dari Pembangunan*

Literatur manajemen bencana menegaskan perubahan paradigma global: bencana tidak
cukup ditangani saat darurattetapi harus dikelola sebagai resiko pembangunan. Wignyo
Adiyososalah satu rujukan penting dalam literatur kebencanaan Indonesiamenekankan
pendekatan holistik yang mencakup pencegahankesiapsiagaanresponshingga pemulihan.
Intinyamanajemen bencana tidak boleh berhenti pada logistik dan tenda pengungsiantetapi
harus masuk ke desain kebijakan publik sejak awal. Dalam bahasa sederhana: kualitas
pembangunan menentukan seberapa besar korban ketika bencana datang.

Namunteori yang baik sering kali tersandung pada praktik yang tidak solid. Adiyoso
juga menyoroti dua persoalan yang kerap menjadi “biang lemah” manajemen bencana:
ketimpangan kapasitas antarlevel pemerintahan dan minimnya partisipasi masyarakat
dalam perencanaan. Kita harus mengakuiNTB masih menghadapi dua persoalan ini dalam
berbagai bentuk. Ada wilayah yang kuat secara kapasitasada yang tertinggal. Ada 
desa yang aktifada yang masih menunggu.

Karena ituarah kebijakan yang ditegaskan Gubernur Miq Iqbal menjadi penting: mitigasi
harus menjadi kerja bersama. Pemerintah provinsi tidak bisa bekerja sendirikabupaten/
kota tidak bisa berjalan sendiridesa tidak bisa dibiarkan sendiri. Semua harus bertemu
dalam satu agenda besar: keselamatan rakyat sebagai prioritas pembangunan.

*Mitigasi Hidrometeorologi: Ekologi Adalah Infrastruktur Keselamatan*

Bencana hidrometeorologi di NTB tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekologi. Ketika
hutan rusakketika daerah resapan berkurangketika sungai dangkal dan sempadan terokupasimaka
hujan berubah menjadi ancaman. Di musim penghujanair meluncur cepat membawa materialmenimbulkan
banjir dan longsor. Di musim kemaraucadangan air menghilangmemicu kekeringan dan
krisis air bersih.

Data daerah menunjukkan degradasi hutan dan tekanan terhadap kawasan tangkapan air
menjadi faktor yang memperparah risiko banjirlongsordan kekeringan. Pada saat yang
samaperubahan iklim meningkatkan ketidakpastian cuaca: hujan ekstrem lebih sering
munculsementara kemarau bisa menjadi lebih panjang dan keras. Ini sebabnya mitigasi
tidak boleh semata “proyek fisik”. Mitigasi harus menyentuh akar: pemulihan ekosistem.

Rehabilitasi hutanperlindungan mata airpenguatan kawasan resapanserta konservasi
lahan adalah investasi yang dampaknya jauh melampaui satu musim. Pembangunan embung
desasumur resapanbioporidan infrastruktur hijau lainnya harus dipandang sebagai 
strategi pengurangan risikobukan sekadar program lingkungan. Ini bukan romantisme
ekologistetapi logika keselamatan publik.

Gubernur Miq Iqbal menempatkan isu ini sebagai fondasi: tanpa ekologi yang sehattidak
ada ekonomi yang stabil. Pertanian tidak bisa hidup tanpa air. Pariwisata tidak 
bisa berkembang di wilayah rawan banjir dan longsor. Dunia usaha dan investasi tidak
akan tahan pada ketidakpastian bencana. Jadi mitigasi adalah syarat pertumbuhan.

*Mitigasi Gempa: Rumah Aman dan Budaya Siaga*

Jika hidrometeorologi menuntut pemulihan ekosistemmaka gempa menuntut ketegasan 
standar keselamatan bangunan. NTB berada pada zona rawan gempasehingga mitigasi 
gempa tidak boleh hanya mengandalkan do’a dan keberuntungan. Gempa tidak bisa dicegahtetapi
korban jiwa dan kerugian bisa ditekan jika rumah dan fasilitas publik dibangun dengan
benar.

Pelajaran penting dari 2018 adalah banyak kerusakan terjadi pada bangunan yang tidak
memenuhi prinsip tahan gempa. Maka mitigasi gempa harus masuk ke jantung kebijakan
pembangunan: rumah rakyatsekolahpuskesmaskantor layanan publikpasardan tempat ibadah
harus memenuhi standar aman. Ini bukan urusan teknis semata. Ini urusan keberpihakan.
Negara tidak boleh membiarkan rakyat tinggal di rumah yang rapuh.

Tetapi mitigasi gempa juga bukan hanya soal beton dan besi. Mitigasi gempa adalah
soal struktur kesadaran. Simulasi evakuasipelatihan kebencanaanpendidikan risiko
di sekolahdan penguatan komunitas siaga harus menjadi kebiasaanbukan seremoni. Masyarakat
harus paham apa yang dilakukan saat guncangan terjadi: melindungi dirimengevakuasi
keluargadan bergerak cepat tanpa panik.

Dalam catatan lapangankita melihat bahwa kesiapsiagaan paling efektif adalah yang
lahir dari kedekatan dengan realitas warga. Karena ituGubernur Miq Iqbal mendorong
mitigasi sebagai budaya: melibatkan sekolahdesatokoh agamapemudarelawanhingga dunia
usaha. Dalam jam-jam pertama bencana“responder” paling cepat bukanlah pemerintahmelainkan
warga itu sendiri.

*Masalah Terbesar: Bukan Kekurangan ProgramTapi Kekurangan Integrasi*

NTB sebenarnya tidak miskin inisiatif. Program ada. Kegiatan ada. Rapat ada. Namuntantangan
besarb kita sering berada pada satu kata: integrasi. Bencana tidak datang sektoral.
Tetapi respons dan mitigasi kita masih sering berjalan sektoral.

Rehabilitasi hutan berjalan sendiri. Tata ruang berjalan sendiri. Infrastruktur 
jalan dan jembatan berjalan sendiri. Pendidikan kebencanaan berjalan sendiri. Sistem
peringatan dini berjalan sendiri. Padahal semua ini seharusnya satu orkestrasi.

Kerusakan hutan memperparah banjir. Banjir merusak jalan. Jalan rusak menghambat
evakuasi. Evakuasi terlambat meningkatkan korban. Korban meningkat memperbesar beban
sosial dan fiskal. Beban fiskal naik mengurangi ruang pembangunanlayanan publik 
tergangguekonomi rakyat terpukullalu kemiskinan meningkat dan kemiskinan adalah 
bahan bakar kerentanan berikutnya. Siklus ini berulang.

Karena ituarah yang ditegaskan Gubernur Miq Iqbal menjadi penting: kebencanaan harus
menjadi bahasa bersama pembangunan NTB. Setiap perangkat daerah harus memasukkan
perspektif resiko. Setiap kabupaten/kota harus disambungkan dalam koordinasi yang
nyatabukan administratif. Setiap proyek fisik harus melewati pertimbangan mitigasi.
Dan setiap data bencana harus menjadi dasar kebijakanbukan sekedar arsip.

*Mitigasi Itu Lebih Murah dari Pemulihan: Ini Soal Akal Sehat Fiskal*

Ada yang masih menganggap mitigasi itu mahal. Ini logika yang keliru. Yang mahal
adalah kerusakan berulang. Yang mahal adalah pemulihan yang tak selesai-selesai.
Yang mahal adalah ketika APBD tersedot untuk memperbaiki hal yang sama setiap tahun.

Jalan yang dibangun tanpa memperhitungkan drainase akan rusak lagi saat hujan ekstrem.
Permukiman yang tumbuh di sempadan sungai akan tergenang lagi saat debit naik. Rumah
yang tidak tahan gempa akan runtuh lagi saat guncangan datang. Sekolah yang rapuh
akan menambah trauma anak-anak.

Mitigasi adalah investasi fiskal jangka panjang: mengurangi biaya pemulihanmenjaga
kesinambungan layanan publikdan melindungi ekonomi rakyat. Di sinilah mitigasi disebut
investasi peradaban: ia menyelamatkan anggaransekaligus menyelamatkan martabat manusia.

*Teknologi dan Partisipasi: Peringatan Dini Harus Sampai ke Warga*

Era digital memberi peluang besar untuk memperkuat mitigasi: sensorIoTdrone pemantau
kawasan rawansistem informasi kebencanaanhingga komunikasi risiko berbasis platform
digital dan bahkan mitigasi dalam bentuk kearifan lokal. Namun teknologi tidak boleh
berhenti di dashboard. Peringatan dini harus benar-benar sampai ke warga dan mudah
dipahami.

Karena itumitigasi yang perlu dibangun bukan sekedar teknologitetapi teknologi yang
bertemu komunitas: sistem peringatan dini yang hiduppartisipatifdan responsif. Data
bertemu kearifan lokal. Kebijakan bertemu realitas lapangan.

Selain ituNTB memerlukan penguatan riset dan evaluasi: analisis efektivitas biaya
berbagai strategi mitigasievaluasi rehabilitasi hutan berbasis masyarakatpengembangan
sistem mitigasi terintegrasi gempa-tsunamiserta pemetaan mikrozonasi yang presisi
untuk mendukung tata ruang. Kerja mitigasi tidak bisa sekadar meniru daerah lain.
NTB harus membangun modelnya sendiri: berbasis karakter geologiiklimsosial budayadan
kapasitas fiskal.

*Penutup: Ukuran Peradaban Ada pada Keselamatan Rakyat*

Bencana mungkin tidak bisa kita hentikan. Tetapi korban dan kerugian bisa kita kurangi.
Dan di situlah ukuran kemajuan sebuah daerah: bukan pada seberapa cepat ia membanguntetapi
pada seberapa bijak ia melindungi.

Mitigasi multi bencana sebagai investasi peradaban berarti keselamatan rakyat menjadi
fondasi pembangunan. Ekologi dipulihkan sebagai infrastruktur keselamatan. Bangunan
aman ditegakkan sebagai standar negara. Kesiapsiagaan dijadikan budaya. Koordinasi
lintas sektor dipadatkan menjadi sistem. Data dijadikan kompas kebijakan.

Jika NTB ingin benar-benar “makmur mendunia”maka mitigasi tidak boleh menjadi agenda
pelengkap. Ia harus menjadi agenda inti. Sebab peradaban bukan hanya soal pertumbuhan
ekonomitetapi juga soal kemampuan melindungi warganya dari resiko yang berulang.
Dan ketika NTB memilih mitigasi sebagai jalan utamakita sedang menulis warisan terbaik
untuk generasi mendatang: NTB yang tangguh dan beradab.

Sumber : Diskominfotik NTB

### Bagikan ini:

 * [  Facebook ](https://koranlombok.com/2026/01/28/mitigasi-multi-bencana-ntb-sebagai-investasi-peradaban/?share=facebook)
 * [  X ](https://koranlombok.com/2026/01/28/mitigasi-multi-bencana-ntb-sebagai-investasi-peradaban/?share=x)
 * [  WhatsApp ](https://koranlombok.com/2026/01/28/mitigasi-multi-bencana-ntb-sebagai-investasi-peradaban/?share=jetpack-whatsapp)
 * [  Telegram ](https://koranlombok.com/2026/01/28/mitigasi-multi-bencana-ntb-sebagai-investasi-peradaban/?share=telegram)
 * [Lagi](https://koranlombok.com/2026/01/28/mitigasi-multi-bencana-ntb-sebagai-investasi-peradaban/#)

 * [  Cetak ](https://koranlombok.com/2026/01/28/mitigasi-multi-bencana-ntb-sebagai-investasi-peradaban/#print?share=print)
 * [  Surat elektronik ](https://koranlombok.com/2026/01/28/mitigasi-multi-bencana-ntb-sebagai-investasi-peradaban/?subject=%5BTulisan%20%5D%20Mitigasi%20Multi%20Bencana%20NTB%20sebagai%20Investasi%20Peradaban&body=https%3A%2F%2Fkoranlombok.com%2F2026%2F01%2F28%2Fmitigasi-multi-bencana-ntb-sebagai-investasi-peradaban%2F&share=email)

### _Info Lainnya_
