# Desa Berdaya dan Tantangan Mengubah Kemiskinan Desa

- Link: https://koranlombok.com/2025/12/16/desa-berdaya-dan-tantangan-mengubah-kemiskinan-desa/
- Published: 2025-12-16T20:05:21+08:00
- Author: NewsRoom

Oleh Mansur Afifi.

Pemerintah daerah provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) telah meluncurkan sebuah program
yang progresifkomprehensifterstrukturdan masif yang diberi nama Program Desa Berdaya
pada Selasa (16/12) kemarin. Program ini dimaksudkan sebagai upaya memberdayakan
masyarakat dan mengentaskan kemiskinan di pedesaan. Secara eksplisit disebutkan 
bahwa target dari program ini adalah menurunkan tingkat kemiskinan ekstrem hingga
nol persen pada tahun 2029.

Data statistik menunjukkan bahwa provinsi NTB  masih menghadapi persoalan struktural
kemiskinan perdesaandengan keberadaan 106 desa kantong kemiskinan ekstrem dan 336
desa kantong kemiskinan absolut. Biro Pusat Statistik melaporkan bahwa tingkat kemiskinan
terbaru per Maret 2025 adalah 11,78 persenatau sekitar 654,57 ribu jiwa. Sementara
itudata kemiskinan ekstrem yang tersedia per Maret 2024 menunjukkan angka 2,04 persen.
Kondisi kemiskinan masyarakat bersifat multidimensi yang dicirikan oleh keterbatasan
pemilikan aset produktifakses layanan dasar yang minimalkerentanan sosialdan lemahnya
kapasitas ekonomi rumah tangga.

Program Desa Berdaya kemudian dirancang untuk menjawab tantangan tersebut melalui
pendekatan place-based developmentdengan fokus pada desa sebagai unit transformasi
ekonomi dan sosial. Program ini tidak hanya menargetkan penurunan angka kemiskinantetapi
juga mendorong kemandirian ekonomiketahanan sosialdan peningkatan kesejahteraan 
berkelanjutan.

Pendekatan Pengentasan Kemiskinan

Pengentasan kemiskinan sering terjebak pada logika jangka pendek: bantuan disalurkanangka
kemiskinan menurun sesaatlalu perlahan naik kembali. Pola ini berulang di banyak
daerah. Di tengah kenyataan tersebutProgram Desa Berdaya yang dirancang Pemerintah
Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menarik perhatian karena mencoba keluar dari 
pendekatan konvensional. Program ini tidak semata bertanya berapa bantuan yang diberikantetapi
bagaimana rumah tangga miskin benar-benar keluar dari kemiskinan secara berkelanjutan.

Desa Berdaya menempatkan desa bukan sebagai objek pasif pembangunanmelainkan sebagai
ruang transformasi ekonomi dan sosial. Sasaran program difokuskan pada desa-desa
kantong kemiskinan ekstrem dan kemiskinan absolut—sebuah langkah penting agar kebijakan
tidak terjebak pada pemerataan semutetapi tepat sasaran. Dalam konteks NTBdi mana
kemiskinan perdesaan bersifat struktural dan multidimensipendekatan seperti ini 
memang dibutuhkan.

Hal paling progresif dari Desa Berdaya adalah adopsinya terhadap pendekatan Graduasi(
Graduation Approach). Pendekatan ini telah digunakan di berbagai negara berkembang
dan terbukti mampu mengeluarkan rumah tangga miskin dari perangkap kemiskinan dalam
jangka menengah. Intinya sederhana namun sering diabaikan: orang miskin tidak cukup
diberi bantuantetapi perlu dorongan awal yang kuatpendampingan intensifserta waktu
yang memadai untuk membangun mata pencaharian yang stabil.

Graduasi bekerja secara berurutan. Rumah tangga miskin terlebih dahulu dipastikan
mampu memenuhi kebutuhan dasarnyakemudian diberi aset atau modal produktif sebagai
big pushdisertai pendampingan yang membantu mereka membangun keterampilankepercayaan
diridan jejaring ekonomi. Pendekatan ini sejalan dengan pandangan ekonom peraih 
NobelAmartya Senbahwa pembangunan sejati bukan sekadar peningkatan pendapatanmelainkan
perluasan kemampuan manusia untuk menentukan masa depannya sendiri.

Kekuatan lain Desa Berdaya adalah upayanya mengintegrasikan berbagai sektor: ekonomi
lokalkesehatanpendidikanlingkunganhingga penguatan kelembagaan desa. Kemiskinan 
jarang berdiri sendiri. Ia tumbuh dari kombinasi keterbatasan asetakses layanan 
dasarkerentanan sosialdan minimnya kesempatan kerja. Pendekatan terpadu semacam 
ini memberi peluang lebih besar untuk menghasilkan perubahan yang bertahan lama.

Tantangan Empiris

Program Desa Berdaya dengan desainnya yang luas dan ambisius memunculkan tantangan
yang besar pada tahap implementasi. Dengan puluhan agenda prioritas dan berbagai
klaster desa tematikrisiko paling nyata adalah kehilangan fokus. Tanpa prioritas
yang jelasprogram berpotensi berubah menjadi kumpulan kegiatan sektoral yang berjalan
sendiri-sendiritanpa dampak transformatif yang nyata bagi rumah tangga miskin.

Kunci keberhasilan Desa Berdaya terletak pada pendampingan. Dalam pendekatan Graduasipendamping
bukan sekadar pelaksana administratifmelainkan figur penting yang menemani keluarga
miskin mengambil keputusan ekonomi yang menentukan hidup mereka. Jika pendamping
tidak dibekali kapasitaspelatihandan insentif yang memadaimaka transfer aset berisiko
tidak menghasilkan perubahan berarti.

Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah keberlanjutan pasca program. Pengalaman
internasional menunjukkan bahwa rumah tangga yang telah “lulus” dari kemiskinan 
tetap rentan jatuh kembali jika tidak terhubung dengan pasarkelembagaan ekonomi 
lokaldan akses pembiayaan yang berkelanjutan. Karena ituketerkaitan Desa Berdaya
dengan BUMDeskoperasidan ekosistem usaha lokal harus diposisikan sebagai bagian 
inti dari strategibukan sekadar pelengkap.

Selain ituuntuk menjamin keberlanjutan pasca program maka pengembangan sumber daya
non material perlu diupayakan. Kemiskinan bukan semata disebabkan oleh kelangkaan
atau tidak ter alokasikannya sumber daya material secara merata tetapi lebih disebabkan
oleh kelangkaan sumber daya non material. Sumber daya non material terdiri dari 
pengetahuanketerampilanreputasijaringan sosialdan sumber daya spiritual. Sumber 
daya spiritual meliputi rasa haus akan ilmu pengetahuanvisi terhadap kesempatanetika
kerjakepekaan terhadap disiplinsolidaritas kekeluargaansolidaritas dalam komunitasdan
iktikad baik. Bentuk yang paling sederhana dari hasil pengembangan sumber daya non
material adalah munculnya pemahaman bersama dan kesepakatan bersama sehingga muncul
rasa memiliki di antara pemangku kepentingan. Karena itupada tahap implementasi 
program Desa Berdaya program pengembangan sumber daya non material harus pula diprioritaskan
untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat sehingga efektivitasefisiensidan keberlanjutan
kegiatan tersebut dapat diwujudkan.

Pada akhirnyaDesa Berdaya adalah taruhan kebijakan yang patut diapresiasi. Program
ini menunjukkan keberanian pemerintah daerah untuk tidak sekadar mengejar penurunan
angka kemiskinantetapi membangun fondasi kemandirian ekonomi masyarakat desa. Jika
dijalankan dengan fokusdisiplindan komitmen jangka menengahDesa Berdaya berpotensi
menjadi contoh bahwa pembangunan desa di Indonesia dapat bergerak dari pendekatan
karitatif menuju transformasi yang lebih bermartabat dan berkelanjutan.

Ket. Foto: Mansur AfifiGuru Besar Ekonomi Universitas Mataram. (Ist)

### Bagikan ini:

 * [  Facebook ](https://koranlombok.com/2025/12/16/desa-berdaya-dan-tantangan-mengubah-kemiskinan-desa/?share=facebook)
 * [  X ](https://koranlombok.com/2025/12/16/desa-berdaya-dan-tantangan-mengubah-kemiskinan-desa/?share=x)
 * [  WhatsApp ](https://koranlombok.com/2025/12/16/desa-berdaya-dan-tantangan-mengubah-kemiskinan-desa/?share=jetpack-whatsapp)
 * [  Telegram ](https://koranlombok.com/2025/12/16/desa-berdaya-dan-tantangan-mengubah-kemiskinan-desa/?share=telegram)
 * [Lagi](https://koranlombok.com/2025/12/16/desa-berdaya-dan-tantangan-mengubah-kemiskinan-desa/#)

 * [  Cetak ](https://koranlombok.com/2025/12/16/desa-berdaya-dan-tantangan-mengubah-kemiskinan-desa/#print?share=print)
 * [  Surat elektronik ](https://koranlombok.com/2025/12/16/desa-berdaya-dan-tantangan-mengubah-kemiskinan-desa/?subject=%5BTulisan%20%5D%20Desa%20Berdaya%20dan%20Tantangan%20Mengubah%20Kemiskinan%20Desa&body=https%3A%2F%2Fkoranlombok.com%2F2025%2F12%2F16%2Fdesa-berdaya-dan-tantangan-mengubah-kemiskinan-desa%2F&share=email)

### _Info Lainnya_
